Networking Bussiness

Beberapa hari ini saya banyak berpikir sebagai efek atas keresahan dalam hati dan pikiran yang sedang saya alami. Awalnya adalah karena keterlibatan beberapa teman kantor pada bisnis MLM (dan sekarang lebih populer dengan sebutan bisnis Networking), yang mereka mulai dengan rasa agak terpaksa (karena upline mereka adalah salah seorang manager kami) tapi finally mereka jalankan dengan alasan daripada udah keluarin duit hampir 100 ribu dan enggak dapat hasil apa-2... Great idea! :P But, not for me..

Beberapa alasan kenapa saya memilih untuk tidak menjalankan bisnis seperti ini adalah :
1. Saya berasa seperti mengeksploitasi orang lain, dengan kata lain : timbul korban berikutnya setelah saya.. Karena saya pun akhirnya harus rela mengeluarkan beberapa puluh ribu untuk menjadi anggota dengan perasaan amat sangat terpaksa, karena gak tega pada teman yang udah berulang kali menawarkan bisnis ini. Dan tentunya, awal yang ngga baik berujung gak baik juga kan... Mana ada kita menanam biji busuk dan tumbuhlah pohon yang rindang dengan buah-2an yang lebat... Sangat jarang bisa terjadi.
2. Produk-2 yang dijual jelas-jelas tertulis dengan label : Made in USA. You know, Amerika sebagai negara adikuasa punya banyak cara untuk menindas negara-2 berkembang, termasuk memaksa kita untuk membeli produk mereka. Pernah kepikiran nggak, ada kemungkinan pasar mereka sudah jenuh untuk produk-2 tersebut dan mereka lempar ke negara-2 seperti negara kita ini - yang sebagian penduduknya western minded. Padahal untuk produk kesehatan - multivitamin dan sejenisnya, saya yakin Cina lebih pakar dalam herbal medicine, dan Amerika hanya setingkat lebih maju dalam hal teknologi.
3. Dan berdasarkan pengamatan saya, orang-2 yang sukses dalam bisnis ini adalah orang-2 yang mempunyai waktu sangat-sangat luang dan dimana uang sudah bukan menjadi kendala bagi mereka dalam arti mereka punya uang "nganggur". Boleh dilihat dalam setiap majalah bulanan yang diterbitkan oleh salah satu bisnis network ini, mostly para member yang finally telah mencapai posisi/level "maha" dan "lumayan maha" adalah sepasang suami-istri atau anak-orang tua dengan komposisi profesi dokter-dokter, wiraswasta-ibu rmh tangga, direktur-ibu rmh tangga, manager-wiraswasta, pegawai BUMN-ibu rmh tangga,etc silakan anda bolak-balik saja komposisi tersebut, pokoknya profesi mereka adalah profesi karir yang sudah mencapai level tertentu - ini yang saya maksud uang bukan sudah lagi menjadi kendala lagi bagi mereka; didampingi partner mereka yang rata-2 adalah ibu rumah tangga yang notabene punya lebih banyak waktu luang.
4. Ajakan supaya "uang yang bekerja untuk kita dan bukan sebaliknya", buat saya terasa nggak pas dengan idealisme saya karena beranak pinaknya uang kita berkat investasi para downline kita...bukan begitu? Dan siapakah yang paling diuntungkan kalo seperti ini? Tentu saja si founder bisnis ini. Dan kalo si founder ini adalah orang bule, wah maaf saja....kok mau-2nya kita memperkaya si bule yang sudah kaya raya...
5. Dari bincang-2 dengan teman saya, kalo bisnis ini dibilang bisa mengangkat seseorang untuk bebas secara finansial asal orang tersebut punya kemauan... Kenapa pada saat krismon melanda negeri ini, bisnis ini bukan solusi bagi kebanyakan orang?
6. Daya beli masyarakat kita sejak krismon sampai saat ini terus menurun, sedangkan produk yang dijual boleh dibilang mahal bahkan untuk kalangan menengah. Ibu saya, lebih memilih beli sabun cuci yang ada di supermarket karena dengan jumlah uang yang sama dia bisa dapet 3 di supermarket, sedangkan kalo beli produk bisnis ini cuma dapat 1.. Saya juga heran, katanya bisnis model begini - dan sepertinya memang betul demikian - bisa memangkas biaya-2 distribusi karena user langsung mendapatkan barang langsung dari produsen tanpa melalui tangan distributor, juga ngga usah pake biaya iklan. Tapi kenapa harganya masih mahal? Apa itu hanya berlaku untuk kantong orang Indonesia aja ya? Apakah kualitas yang katanya bagus harus ditebus dengan harga mahal? Kalau begitu yang terjadi, kasihan sekali golongan menengah-bawah, seumur-2 ga akan bisa mencicipi yang namanya produk berkualitas, yang seharusnya menjadi hak bagi setiap orang, setiap konsumen.. Padahal kemiskinan yang melanda mereka tidak selamanya karena mereka tidak mau berusaha, tapi juga karena tidak adanya kesempatan. Pertanyaannya, apakah sistim dalam bisnis ini membuka kesempatan lebar bagi golongan menengah-bawah? Saya rasa kok enggak..

Demi tidak mematahkan semangat rekan-2 saya yang sedang giat berbisnis networking ini (sebenernya saya agak kasian juga karena mereka udah telat sekitar 20 taun, jadi ada di level mana mereka saat ini dlm piramida) saya bilang :
1. Manfaatin dapet diskon beli produk-2 mereka kalau kamu memang mampu untuk membelinya. Falsafah orang jawa "ana rega ana rupa" - harga mahal pasti kualitas bagus- bolehlah dipegang kalo emang kamu percaya.. What can I say kalo seseorang emang udah percaya akan sesuatu..
2. Manfaatin seminar-2 pengembangan diri yang sering diadain, ada bagusnya juga...(Lagi-2 harus keluar uang untuk seminar-2 yang ilmunya bisa kita dapat dengan baca buku, diskusi dengan teman-2 atau browsing internet).
3. Kesempatan untuk membangun relasi baru kalau kamu emang membutuhkan suatu komunitas baru dalam hidup..

Sama saja pada saat kita bekerja banting tulang untuk para pemegang saham perusahaan tempat kita bekerja, saya rasa memang tetap perlu keikhlasan untuk menjalankan bisnis seperti ini, terutama keikhlasan atas setiap detik dan rupiah yang kita keluarkan adalah untuk mensupport upline kita dalam tujuannya mencapai level tertentu. Dan tentu saja keikhlasan untuk tetap dibodohi oleh sistim yang dibuat oleh negara adikuasa.. Toh, sedemikian dirasa hebatnya sistim ini oleh si founder, di Indonesia sistim ini nggak juga ikut membangun perekonomian kita secara signifikan.. Yang kaya tetap kaya dan makin kaya, yang miskin tetep miskin dan makin miskin..

So, friends, hidup ini banyak pilihan.. Jadi jangan takut untuk bilang enggak pada hal-hal yang bertentangan dengan hati, pikiran, dan lebih-lebih iman Anda... Hendaknya kita juga care pada kehidupan orang lain. Jangan pernah punya dalih membantu orang lain tapi sebenarnya we just want to get our goal.. Setiap ketulusan hati pasti mendapat berkat, dan dicatat oleh sang malaikat...Amen..

Comments

Popular Posts