Keliru
Sungguh saya mengakui kali ini saya keliru.
Dimulai pada kabar-kabar yang tidak saya undang untuk hadir, tetapi teman-teman yang semakin lama (mungkin) semakin kasihan dengan saya dan keluarga, informasi itu dihadirkan kepada kami dengan berat hati. I really know it, mereka bukan tipe pengadu, tetapi jengah krn tahu banyak hal tidak baik terjadi.
(Kadang, ketidaktahuan kita akan sesuatu malah membuat kita nyaman, ketimbang mengetahui sesuatu yang tidak pada jalurnya membuat hati tidak damai sejahtera, karena risih dengan kemunafikan)
Keheranan saya yang pertama, ketidaksukaan beberapa orang kepada kami sebenernya hanya ketidaksukaan mereka kepada suami saya dalam hal pekerjaan. Personally, saya pun jarang berinteraksi dgn mereka sehari-hari. Tetapi mereka kemudian menjadi tidak terkendali hingga yang diperbincangkan tidak hanya masalah pekerjaan tetapi juga keluarga rekan kerjanya. Konon katanya, setiap saya ganti pp di bbm, mereka akan memberi komen2 negatif dan julukan2 bagi kami bahkan anak2 saya. Bisa dibilang kami ini dibully di belakang. Hahaha... serasa artis deh saya. Gpp ya anak2ku, latihan kalian bisa dimulai dari sekarang, saat kelak jadi orang tenar, kalian sudah siap. Amin...
Keheranan kedua. Terimakasih bagi yg sudah memberi info kami. Walaupun tidak serta merta kami langsung percaya. Karena.... yuhuuuuu mbak-mbak stalker ini berhijab, masa orang yg sudah berhijab suka bergosip? Nah, disinilah letak kekeliruan saya. Dalam asumsi saya, yang didasari pada pengalaman teman2 sepergaulan saya, mereka yang berani berhijab, sungguh2 mempersiapkan diri mereka lahir dan batin. Ketika mereka mulai menutup aurat, mereka juga mulai berhati2 dalam bertingkah laku dan bertutur kata. Ekstrimnya bahkan ada temen berhijab yg kalau pembicaraan di group chat mulai rusuh maka dia memutuskan utk left group. Pilihan bijaksana yang harus kita hormati. Itu teman-teman saya, yang membentuk asumsi positif pada diri saya. Dan mau tau letak kekeliruan saya? Saya terlalu banyak berharap orang lain mengikuti asumsi saya. Refleksi ini saya dapatkan setelah "digampar" habis-habisan oleh teman baik saya KH. Menurutnya, "anak2 kita aja ga bisa kita bentuk semau kita, apalagi orang lain. Lu ga bisa berharap orang bersikap seperti asumsi elu." Noted. Walaupun saya butuh waktu berminggu-minggu untuk pada akhirnya saya bilang : you're one of some true friends I've ever had.. Terima kasih sudah mengkoreksi saya secara objektif.
Keheranan ketiga. Suami saya yang paling sering diperbincangkan secara negatif oleh para stalker, lempeng aja tuh 😅 karena menurut dia buang2 waktu aja ngebahas yang nggak penting. Dalam pekerjaan harus selalu objektif. Nah itu lah darling, besok akan kubelikan buku mengenai perbedaan mars dan venus, agar kamu bisa memberi treatment yang paling baik utk para venus. Mungkin rekan kerja venus mu perlu perhatian lebih.
Keheranan keempat. Saya udah jadi manusia selama hampir 37 tahun, tapi belum ada perubahan di dalam bersikap, cenderung frontal dan to the point. Terlahir di dalam keluarga dimana jumlah anggota keluarga laki2 lebih dominan. Didukung dgn pernah bersekolah di jurusan dimana jumlah mahasiswa perempuan hanya 1/10 dari jumlah mahasiswa 1 angkatan, sense of basa basi saya kurang banget. Kadang itu merugikan lho. Karena saya cenderung suka mengkonfirmasi langsung pada orang yang bersangkutan daripada cari info sana sini. Kelihatannya fair ya, tapi saya melupakan sisi psikologis yg didapat dari orang yang kita todong konfirmasinya, tidak semua orang siap. Apalagi yang model2 stalker, hehe... Jadi, saya memang harus pelan2 berubah, bukan dalam hal meningkatkan sense of basa basi nya tp lebih membuat peningkatan dalam menahan diri untuk tidak frontal.
Keheranan kelima. Di suatu sore yang cerah, tiba-tiba ada malaikat nemplok dalam diri saya. Saya bbm suami saya : "Pap maaf ya kalo kadang aku emosian dan frontal" dan sepertinya dia juga lagi ketempelan malaikat krn bbm nya dijawab cepet, biasanya lambretaaa hihihi. Dan jawabnya, " Ya gpp makanya gak usah diladeni, habisin energi aja. Pohon itu semakin tinggi semakin kencang angin yg menerpa. Kita nikmati saja perjalanan hidup ini, yang penting kita berusaha sebaik mgkn untuk kita dan orang lain. Tuhan pasti ngasih berkatNya buat kita" Mak nyesss saya bacanya haha krn doi jarang bales bbm panjang dan lebar (kalo perlu panjang dan lebar dia pasti langsung telpon, males ngetik katanya). Dan wealaaaah saya takjub, sudah "tersakiti" gitu koq ya masih mau berbuat sebaik mgkn untuk orang lain. Dan malaikat yang nemplok tadi berbisik "How lucky you are for having him in your life" dan saya mrebes mili..
Sudah ah jangan heran-heran lagi karena hidup harus terus berjalan.
Terima kasih Tuhan atas kerikil-kerikil kecil dalam hidup kami, kami meyakini bahwa itu adalah ujian kenaikan kelas bagi kami, asal kami tidak hanya mampu berkaca namun juga mau introspeksi diri, melihat jauh ke dalam. Karena kami juga Kau percayai anak-anak yang setiap detik harus kami beri contoh yang baik.
Terima kasih Tuhan mau hadir melalui teman-teman sejati kami, yang memberi masukan2 positif, yang tidak sungkan2 mengatakan cara pandang saya salah.
Terima kasih Tuhan memberi saya waktu untuk masih bernafas sampai hari ini, sehingga saya boleh diingatkan rhema ttg Kasih pada saat misa pagi tadi. Sulit Tuhan menjadi seorang katolik sejati, ketika kita harus memberikan pipi kanan saat pipi kiri ditampar, tapi saya akan berusaha dalam setiap helaan nafas yang Kau beri.
Comments