A new concept : Home Schooling

Saya emang belum menikah, dan tentu saja belum punya anak. Tapi saya ikut merasakan, bagaimana sesaknya tarikan nafas teman-teman yang sudah mengalami proses tersebut. Hidup di Indonesia dengan tuntutan harga-harga produk dan jasa yang semakin melambung, mempersempit kesempatan teman-teman wanita untuk berprofesi hanya sebagai ibu rumah tangga. Karir mungkin prioritas kedua, karena yang utama adalah additional income, alih-alih demi kehidupan yang layak dan lebih baik bagi si anak. Dan bagi yang sudah melahirkan generasi pertama, pilihan yang seringkali terjadi adalah merelakan si anak menjadi "anak kakek-nenek" -- dengan pendidikan tempo doeloenya atau lebih parah lagi "anak babysitter", dengan segala konsekuensi yang terjadi. Saat sudah memasuki usia sekolah, seringkali anak lebih terkondisikan dengan sistem yang ada, dan akhirnya menjadi seperti manusia robot -- manusia tanpa kemanusiaannya, yang "hidup" untuk sebuah sistem. Waktu orangtua yang tersedia full bagi keluarga mungkin hanya hari Sabtu dan Minggu, itupun kalo ngga capek. Memang, yang paling penting bukan kuantitas tapi kualitas relationship yang terbangun dalam waktu yang terbatas tersebut.

Demi tidak membiarkan anak-anak kita terlarut dalam dunia yang makin "gila" ini, I recommend you to read this book -- Learning at Home : A Mother's Guide to Homeschooling by Marty Layne -- yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia -- Ibuku Guruku. Atau bisa liat di www.martylayne.com So far, saya meyakini pendidikan bermutu dimulai dari pendidikan dalam keluarga. Mungkin kita ngga bisa 100% menerapkan metode yang ada dalam buku ini di Indonesia, lebih-lebih kalo kita adalah ibu yang bekerja. Idealnya menurut buku ini adalah si ibu sendiri yang menjadi tenaga pengajar bagi anak-anaknya, dalam pengawasan 24/7. Yah, setidaknya kita bisa mengambil ide-ide untuk memanfaatkan hari Sabtu dan Minggu yang berkualitas untuk anak-anak. Lagipula, menurut saya nih, sebagus-bagusnya fasilitas yang ada di sekolah, kalau kurikulum di Indonesia masih yang begini-begini aja, ngga akan menjadikan anak-anak kita manusia yang sebenar-benarnya. Padahal bukankah itu tanggung jawab kita kepada Sang Pencipta atas anak-anak yang dititipkan pada kita? Teori mungkin bisa dipelajari, tapi kearifan dan kebijaksanaan dalam mengolah ilmu dan teori-teori itulah yang paling penting untuk diajarkan.

For example, hanya dengan mengajak anak-anak membuat adonan kue, kita bisa memberinya banyak pelajaran. Kita bisa menceritakan darimana tepung, gula, mentega, dll berasal dan bagaimana prosesnya. Bagaimana mixer bisa berputar, tentu ada ilmu fisikanya bukan? Juga bagaimana panas pada suhu tertentu bisa mengembangkan adonan kue. Dan ketika kita mengiris kue menjadi beberapa bagian, kita bisa mengajarinya berhitung. Dan ketika kita menyuruhnya untuk memberikan beberapa potong kue untuk anak tetangga, kita mengajarinya untuk saling berbagi... Atau pada kesempatan lain kita mengajak anak-anak berenang, kita bisa bercerita tentang hukum archimedes, dan sejenisnya. Dan kita pun bisa mengenalkan apa itu kompetisi sportif dengan mengajaknya berlomba adu cepat berenang. Kekalahan ataupun kemenangan bukanlah segalanya.Demikianlah, berawal dari satu kegiatan saja, kita bisa memberinya banyak ilmu. Science, social, mathematic, and wisdom.
Selamat mencoba! Because the children are our diamonds. Can't be shine when we have no effort to burnish it.

Comments

Popular Posts