yesterday, today, tomorrow
Kadang-kadang saya berkeinginan kuat untuk menulis diary lagi, isinya semacam memoirs of myself. Narsist? Just for a life review koq. Tapi baru beberapa paragraf, saya merasa sepertinya ngga akan sanggup menulis lebih banyak lagi, too much words to tell about. (Dasar emang males kali ye..hehe..) Sebenernya lebih kepada setiap saya me-review masa lalu, banyak hal yang membuat saya sedih, terharu, menyesal mungkin, sekaligus bersyukur.. Ibaratnya lidah saya menjadi kelu untuk melanjutkan cerita (taela, bahasanya..). Dan seketika saya berubah pikiran 180 derajat, ah buat apa diingat-ingat, much better to go on the present and the future. Tapi, bukankah saya sekarang adalah refleksi dari masa lalu? Apa gunanya juga melihat kaca spion terlalu lama? Kalo hari ini adalah refleksi hari kemaren, maka hari ini sekaligus akan menjadi refleksi hari esok. Lebih baik konsentrasi pada hari ini saja..
But, someday saya tetep pengen mengisahkan riwayat kehidupan saya pada seseorang. Tidak dalam media yang tercetak, melainkan "live" dari mulut saya sendiri, apa yang menjadi "titik balik" dalam kehidupan yang telah saya jalani...
But, someday saya tetep pengen mengisahkan riwayat kehidupan saya pada seseorang. Tidak dalam media yang tercetak, melainkan "live" dari mulut saya sendiri, apa yang menjadi "titik balik" dalam kehidupan yang telah saya jalani...
Comments