Pelajaran hidup : Memaafkan

Ibaratnya nyamuk aja saya tepuk setelah sebelumnya saya kejar habis-habisan karena nyaris / sudah menggigit anak saya, apalagi seseorang yang berusaha melecehkan fisik anak saya, di belakang kami orang tuanya.

Bagi orang lain mungkin saya lebay. Tapi yang ngomong itu sudah pernah merasakan bagaimana rasanya mengandung belum? Dan sudah pernah merasakan bagaimana sakitnya saat melahirkan atau belum ya?

Bagi seorang ibu yg normal, anak adalah harta yang tak ternilai harganya, yang berusaha dia jaga, karena mereka adalah titipan dari Tuhan.

Kenapa saya katakan ibu yang normal? Karena yang melakukan pelecehan terhadap anak saya adalah kelompok yang terdiri dari 2 orang ibu yang saya tidak tau normal atau tidak (yang masing-masing juga memiliki anak) dan 2 orang gadis yang belum laku-laku. Kalau mereka seorang ibu yang normal tentunya akan berpikir dua kali sebelum melecehkan anak orang lain. Ambil cermin dulu, terima nggak kalau anaknya dilecehkan orang lain? Kalau jawabannya tidak mau, ya janganlah lakukan itu pada orang lain. Seandainya pun 
anda bukan penganut hukum karma, setidaknya kita semua pernah sekolah kan dan diajari norma-norma yang baik yang sepatutnya dilakukan.

Dan lagipula, bukankah seorang anak itu adalah manusia juga, mereka adalah mahakarya Sang Pencipta Kehidupan. Setiap manusia diciptakan secara unik oleh Nya. Dan kalau hati anda sanggup utuk melakukan pelecehan terhadap hasil karya Sang Pencipta, pada akhirnya saya tidak tau bagaimana sebenarnya hubungan anda dengan Empunya Kehidupan.

Seperti "tamparan" yang pernah saya layangkan kepada yang bersangkutan, kita ini contoh bagi anak-anak, mari kita sportif supaya anak-anak kita juga seperti itu. Kalau anda tidak suka dengan orangtuanya, sampaikan secara terbuka, kita bicarakan baik-baik, tetapi bukan mengorbankan anak-anak yang tidak tau apa-apa untuk anda lecehkan semaunya di dalam obrolan grup anda.

Please be careful with your mouth and your fingers. Sungguh, saat ini dosa bukan hanya bersumber dari hati dan mulut yang kotor, jaman sekarang kita justru harus waspada dengan jari-jari kita, justru dosa sering bersumber dari jari kita ☺

Saya sakit hati, iya. Saya seorang ibu, saya manusia pada umumnya.

Tapi ya sudahlah, saya sudah mencoba sportif dengan menegur mereka. Harapannya mereka mau introspeksi diri, tidak hanya sebatas berkaca. Kecuali saya masih mendengar ada pelecehan lagi, saya tidak sungkan-sungkan untuk melakukan eskalasi tindakan saya.

Baru kali ini saya bener-bener merasakan, susahnya jadi seorang katolik. Harus berani memaafkan di saat masih jengkel dan sakit hati. Ego saya mengatakan tidak bisa namun apa artinya doa-doa yang dipanjatkan apabila yang berkuasa masih ego kita, bukan Roh Kudus.

"Ampunilah kami seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami"
Duh Gusti Yesus... koq angel men tho ya....  tapi akan saya coba terus...

Terima kasih Tuhan menguatkan saya dengan hadirnya teman2 baik,

Ci vero yang menasehati : "dah delcon aja, trus pergi retret minta sama Tuhan biar kamu ndak bisa inget lagi wajah2 orang2 yang pasti njelehi itu" :D

Kristianto, butuh waktu berminggu2  buatku untuk bisa menerima masukan2 objektif yang udah kamu jelaskan panjang lebar. "Bahwa kita nggak bisa mengharapkan orang lain bersikap seperti apa kepada kita. Udah, cuek aja." Soriiiii susah emang ngomong sama orang sakit hati haha.. But I'll keep try (slowly), life must go on and stay focus on the goal.

The true friends always come in the right time. Thank you friends, thank you God.

Comments

Popular Posts