Latepost #31Dec2018
Waktu datang dan pergi silih berganti. Pagi berganti malam, untuk menuju terbitnya matahari kembali. Tahun berganti, untuk meninggalkan keusangan dan menuju kesempurnaan.
Seseorang datang dalam kehidupan kita, untuk kemudian pergi pada suatu hari. Begitulah hidup, yin dan yang setia membentuk sebuah lingkaran. The circle of life.
Siapa bilang hidup tak boleh mengejar "kesempurnaan:? Kalau kesempurnaan hanya milik Tuhan semata, tak inginkah kau memeluk-Nya? Bukan supaya kau sesempurna Dia, tapi supaya hidupmu selalu dibarukan dan disempurnakan oleh Nya.
Jangan sampai orang memaklumi perbuatanmu dan bergumam.. yah begitulah jika seseorang tidak mempunyai kehidupan yang sempurna.
Teruntuk teman-temanku, yang sampai penghujung tahun ini statusmu masih lajangers, usahakan jangan lapuk dan jangan layu sebelum berkembang ya gess 😃😃 I just want to say, ra usah galau, kamu layak mendapat yang sempurna dalam hidupmu!
Jaman milenial yang namanya bibit bobot bebet sudah jadi pertimbangan nomor sekian. Ketika lembaga perkawinan tidak dipahami sebagai sesuatu yang sakral, maka berpisah dan bercerai semudah makan mendoan sambil nyeplus lombok. Sensasinya bikin nagih. Kapok lombok. Ya karena itu tadi, tidak paham makna sebuah pernikahan.
Maka ketika orang2 jaman tempo doeloe sangat sangat melihat bibit bobot bebet seseorang, sesungguhnya mereka hanya tak ingin keturunannya mendapat susah. Perbedaan usia, perbedaan keyakinan, perbedaan latar belakang pendidikan, perbedaan suku, perbedaan latar belakang ekonomi sosial, ibarat tambahan beban pada sebuah armada transportasi, dimana tanpa ada tambahan beban saja bisa terjadi kerusakan mesin, ban bocor, dll apalagi ada tambahan beban, resiko menjadi bertambah.
Namun sayangnya bahwa porsi pendidikan psikologis antar manusia di Indonesia tidak seimbang dengan porsi pendidikan moral pancasila misalnya. Maka kemudian kita merasa bisa mengatasi perbedaan itu dengan sebuah toleransi. Ya mungkin memang bisa. Tapi coba tilik hati masing-masing bagi yang menjalani maupun pernah menjalani. Toleransi yang menyisakan sekelumit ruang hampa dalam hati, dalam perjalanan waktu.
Bagaimana rasamu, menjadi seorang istri yang menjadi tulang punggung keluarga, sementara suami pengangguran terselubung. Sibuk tapi tidak menghasilkan. Bagaimana rasamu, ketika setelah menikah, karena berbeda keyakinan, bahkan ke gereja pun tak sempat, atau tak bersemangat? Bagaimana rasamu, ketika suami lebih muda, dan kamu mendengar selentingan atau bahkan tahu sendiri bahwa suamimu mulai tak setia? Bagaimana rasamu, ketika istri hanya pandai bersolek namun mlongo ketika diajak ngomong sedikit berat? Bagaimana rasamu ketika kamu sudah bekerja keras bagai kuda demi keluarga, tapi istri selalu curiga pada wanita-wanita di sekitarmu?
Ingin menyesal tapi teringat sebuah tanggung jawab. Penyesalan bukanlah suatu pilihan atas rasa tidak sempurna. Bertahan dan bertanggung jawablah pada pilihan. Lalu bagaimana dengan ruang hampamu? Titipkan pada Sang Waktu.
Karena sejatinya toleransi semata bukanlah satu-satunya jembatan, tetapi CINTA AGAPE yang paling hakiki untuk membuat hidup menjadi sempurna. Carilah dan milikilah. Seperti cinta Tuhan padamu, tak terbatas, tak bersyarat...
Selamat menyongsong tahun penuh pengharapan, tahun yang seyogyanya dipenuhi dengan cinta kasih..
Seseorang datang dalam kehidupan kita, untuk kemudian pergi pada suatu hari. Begitulah hidup, yin dan yang setia membentuk sebuah lingkaran. The circle of life.
Siapa bilang hidup tak boleh mengejar "kesempurnaan:? Kalau kesempurnaan hanya milik Tuhan semata, tak inginkah kau memeluk-Nya? Bukan supaya kau sesempurna Dia, tapi supaya hidupmu selalu dibarukan dan disempurnakan oleh Nya.
Jangan sampai orang memaklumi perbuatanmu dan bergumam.. yah begitulah jika seseorang tidak mempunyai kehidupan yang sempurna.
Teruntuk teman-temanku, yang sampai penghujung tahun ini statusmu masih lajangers, usahakan jangan lapuk dan jangan layu sebelum berkembang ya gess 😃😃 I just want to say, ra usah galau, kamu layak mendapat yang sempurna dalam hidupmu!
Jaman milenial yang namanya bibit bobot bebet sudah jadi pertimbangan nomor sekian. Ketika lembaga perkawinan tidak dipahami sebagai sesuatu yang sakral, maka berpisah dan bercerai semudah makan mendoan sambil nyeplus lombok. Sensasinya bikin nagih. Kapok lombok. Ya karena itu tadi, tidak paham makna sebuah pernikahan.
Maka ketika orang2 jaman tempo doeloe sangat sangat melihat bibit bobot bebet seseorang, sesungguhnya mereka hanya tak ingin keturunannya mendapat susah. Perbedaan usia, perbedaan keyakinan, perbedaan latar belakang pendidikan, perbedaan suku, perbedaan latar belakang ekonomi sosial, ibarat tambahan beban pada sebuah armada transportasi, dimana tanpa ada tambahan beban saja bisa terjadi kerusakan mesin, ban bocor, dll apalagi ada tambahan beban, resiko menjadi bertambah.
Namun sayangnya bahwa porsi pendidikan psikologis antar manusia di Indonesia tidak seimbang dengan porsi pendidikan moral pancasila misalnya. Maka kemudian kita merasa bisa mengatasi perbedaan itu dengan sebuah toleransi. Ya mungkin memang bisa. Tapi coba tilik hati masing-masing bagi yang menjalani maupun pernah menjalani. Toleransi yang menyisakan sekelumit ruang hampa dalam hati, dalam perjalanan waktu.
Bagaimana rasamu, menjadi seorang istri yang menjadi tulang punggung keluarga, sementara suami pengangguran terselubung. Sibuk tapi tidak menghasilkan. Bagaimana rasamu, ketika setelah menikah, karena berbeda keyakinan, bahkan ke gereja pun tak sempat, atau tak bersemangat? Bagaimana rasamu, ketika suami lebih muda, dan kamu mendengar selentingan atau bahkan tahu sendiri bahwa suamimu mulai tak setia? Bagaimana rasamu, ketika istri hanya pandai bersolek namun mlongo ketika diajak ngomong sedikit berat? Bagaimana rasamu ketika kamu sudah bekerja keras bagai kuda demi keluarga, tapi istri selalu curiga pada wanita-wanita di sekitarmu?
Ingin menyesal tapi teringat sebuah tanggung jawab. Penyesalan bukanlah suatu pilihan atas rasa tidak sempurna. Bertahan dan bertanggung jawablah pada pilihan. Lalu bagaimana dengan ruang hampamu? Titipkan pada Sang Waktu.
Karena sejatinya toleransi semata bukanlah satu-satunya jembatan, tetapi CINTA AGAPE yang paling hakiki untuk membuat hidup menjadi sempurna. Carilah dan milikilah. Seperti cinta Tuhan padamu, tak terbatas, tak bersyarat...
Selamat menyongsong tahun penuh pengharapan, tahun yang seyogyanya dipenuhi dengan cinta kasih..
Comments