Valentine #Part2
Sejak Valentine di kala itu, yang namanya cinta tampak rumit buatku. Antara ingin jujur mengungkapkan perasaan, dan paradigma tabu di masyarakat yang masih melekat, masa' cewek ngomong suka sih sama cowok. Pada era generasi Y dan Z paradigma tersebut mungkin sudah luntur dilibas waktu. Ya begitulah anak2 80an, malu malu tapi mau sebenernya 😄
Enjoying our time, kebersamaan dalam tugas kuliah semakin membuatku mengenal pribadinya. Dan semakin membuatku percaya diri, untuk melepaskan ikatan dari yang pernah mengkhianatiku (beberapa kali). Ketika ditanya alasannya, eh ya ampun, masih aja nggak inget dosa2nya (dalam hati aja sih ngomongnya), dan tanpa basa basi saya katakan, sorry I have no respect to you anymore, aku jatuh cinta pada orang lain. Please, hengkang dari kehidupanku.
Marah? Iya. Diteror? Iya. Dan dia melakukan hal-hal standart yang dilakukan orang2 yang diputus cintanya, ngerokok ugal-ugalan, dsb dsb.
Diteror macam apa sih? Yah namanya hubungan yang sudah putus, sebaiknya kan sudah tidak saling urusan ya. Entah apa maksudnya, tiap kali kenalan sama cewek baru, telpon, diceritain. 😴 Sampai yang terakhir, dia telpon dengan panik, karena menghamili pacar barunya, yang dikenal saat naik travel semarang-jogja. Oh, ya selamat ya mau jadi bapak, gitu aja sih responku waktu itu. 🙄 Trus so whaaaat elu laporan sama gue?
Tapi saya jadi dapet satu pelajaran, bahwa dalam suatu hubungan penjajakan laki-laki dan perempuan, mau dibuat seperti apa dan dibawa kemana arahnya, 90% kendali ada di tangan perempuan. Harus! Nah, tinggal perempuan seperti apa yang kamu pacari. 😊
Kesibukan tugas dan asistensi mahasiswa semester 2 kujalani dengan perasaan bahagia, banget! Hanya dengan mengetahui bahwa ada seseorang yang menyukaimu, dan begitupun kamu.. Sesederhana itu. Dan status menjadi tidak terlalu penting. Lebih penting saat kamu tidak usah mengutarakan isi hatimu, tapi dia menangkap pesan itu melalui gesture tubuhmu, dari cara berbicara, dari cara menatap dia 😊☺ Falling in❤ is always the best feeling I've ever had. (Kalo anak sekarang pasti udah bilang ciyeeee....) 😂
Di suatu sore, tiba-tiba dia datang ke rumah lagi. Bercerita hangat, sehangat matahari sore itu. Dan kemudian, Felis... aku tau koq kamu udah ngga sama siapa2.. aku pengen banget kita bisa pacaran, tapi maaf aku bukan tipe orang yang bisa pacaran jarak jauh, kita nggak tau apa yang ada di depan, jujur aku takut mengecewakan kamu. Aku keterima di ITB, jadi aku harus pindah semester depan. Kita bisa terus bersahabat, seperti sekarang, kamu bisa sharing apapun sama aku, with no limit, kapan pun, as my promise..
Huuu haaa inhale... exhale.... antara bahagia dia bisa mencapai apa yang dicita2kan, masuk ke ITB, dan bersiap harus kehilangan sosoknya secara fisik. Antara pengen nangis bahagia sekaligus nangis sedih. Kalo sinetron, mungkin dikasih background daun2 jatuh berguguran gitu dengan backsound lagunya Glenn Fredly, Sekali Ini Saja.
Dan baru kali itu, saya nangis di depan cowok. Gengsiku sudah luntur entah kemana...
Bersamamu
Kulewati
Lebih dari seribu malam
Bersamamu
Yang kumau
Namun kenyataannya tak sejalan
Tuhan bila masih 'ku diberi kesempatan
Izinkan aku untuk mencintanya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
Biar cinta hidup sekali ini saja
Enjoying our time, kebersamaan dalam tugas kuliah semakin membuatku mengenal pribadinya. Dan semakin membuatku percaya diri, untuk melepaskan ikatan dari yang pernah mengkhianatiku (beberapa kali). Ketika ditanya alasannya, eh ya ampun, masih aja nggak inget dosa2nya (dalam hati aja sih ngomongnya), dan tanpa basa basi saya katakan, sorry I have no respect to you anymore, aku jatuh cinta pada orang lain. Please, hengkang dari kehidupanku.
Marah? Iya. Diteror? Iya. Dan dia melakukan hal-hal standart yang dilakukan orang2 yang diputus cintanya, ngerokok ugal-ugalan, dsb dsb.
Diteror macam apa sih? Yah namanya hubungan yang sudah putus, sebaiknya kan sudah tidak saling urusan ya. Entah apa maksudnya, tiap kali kenalan sama cewek baru, telpon, diceritain. 😴 Sampai yang terakhir, dia telpon dengan panik, karena menghamili pacar barunya, yang dikenal saat naik travel semarang-jogja. Oh, ya selamat ya mau jadi bapak, gitu aja sih responku waktu itu. 🙄 Trus so whaaaat elu laporan sama gue?
Tapi saya jadi dapet satu pelajaran, bahwa dalam suatu hubungan penjajakan laki-laki dan perempuan, mau dibuat seperti apa dan dibawa kemana arahnya, 90% kendali ada di tangan perempuan. Harus! Nah, tinggal perempuan seperti apa yang kamu pacari. 😊
Kesibukan tugas dan asistensi mahasiswa semester 2 kujalani dengan perasaan bahagia, banget! Hanya dengan mengetahui bahwa ada seseorang yang menyukaimu, dan begitupun kamu.. Sesederhana itu. Dan status menjadi tidak terlalu penting. Lebih penting saat kamu tidak usah mengutarakan isi hatimu, tapi dia menangkap pesan itu melalui gesture tubuhmu, dari cara berbicara, dari cara menatap dia 😊☺ Falling in❤ is always the best feeling I've ever had. (Kalo anak sekarang pasti udah bilang ciyeeee....) 😂
Di suatu sore, tiba-tiba dia datang ke rumah lagi. Bercerita hangat, sehangat matahari sore itu. Dan kemudian, Felis... aku tau koq kamu udah ngga sama siapa2.. aku pengen banget kita bisa pacaran, tapi maaf aku bukan tipe orang yang bisa pacaran jarak jauh, kita nggak tau apa yang ada di depan, jujur aku takut mengecewakan kamu. Aku keterima di ITB, jadi aku harus pindah semester depan. Kita bisa terus bersahabat, seperti sekarang, kamu bisa sharing apapun sama aku, with no limit, kapan pun, as my promise..
Huuu haaa inhale... exhale.... antara bahagia dia bisa mencapai apa yang dicita2kan, masuk ke ITB, dan bersiap harus kehilangan sosoknya secara fisik. Antara pengen nangis bahagia sekaligus nangis sedih. Kalo sinetron, mungkin dikasih background daun2 jatuh berguguran gitu dengan backsound lagunya Glenn Fredly, Sekali Ini Saja.
Dan baru kali itu, saya nangis di depan cowok. Gengsiku sudah luntur entah kemana...
Bersamamu
Kulewati
Lebih dari seribu malam
Bersamamu
Yang kumau
Namun kenyataannya tak sejalan
Tuhan bila masih 'ku diberi kesempatan
Izinkan aku untuk mencintanya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
Biar cinta hidup sekali ini saja
Comments